Sore ini dalam dingin suhu AC
bus Mira melaju meninggalkan kota Gudeg. Entah Kota Gudeg atau kota Pelajar
yang jelas kota ini telah memberikan coretan cerita dalam sejarah perjalananku
menuju puncak asa. Kota budaya, Never Ending Asia dan masih banyak mungkin
julukan yang disematkan pada Jogja. Perjalananku kali ini bukan dalam rangka
backpakeran ato refreshing melainkan menuju kota tercinta, Kota Reyog,
Ponorogo. Letih yang amat sangat pun membuatku tertidur mengikuti ruas jalur
mimpi. Sesaat aku terjaga dari tidur. Kulihat waktu menunjuk Pukul 16.30 kulkas
berjalan ini (karena saking dinginnya suhu AC didalam bus,hee..) memasuki
terminal Tirtonadi. Sudah menjadi kebiasaan bahkan ritualku saat pulang naik
bus yakni membeli tahu asin yang dijajakan laskar asongan. Tak kenyang memang
namun sedikit membungkam perut ini. Suasana terminal yang khas dengan para
asongan. Tak pelak jika tempat seperti ini bisa menjadi salah satu pusat
perekonomian rakyat.
![]() |
| Lawu di Sore hari |
وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, (An Nahl 16 :15)
وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُونٍ
"Dan kami Telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. (Al Hijr 15 : 19)
Terus memutar ulang saat-saat bagaimana harus melewati
jalan setapak, berjumpa dan saling sapa dengan sesama Pendaki, menyisir alam,
bertemankan dengan lelah, udara dingin, hujan dan juga ancaman-ancaman dari
alam bebas yang setiap saat menyerang. Sensasi luar biasa memang bagi seorang
pendaki pemula sepertiku. Namun suatu hal kekonyolan apabila segalanya dengan
persiapan seadanya. Pendakian gunung kedua ini harus lah mencapai yang
kutargetkan. Mencapai puncak tertinggi, Hargo Dumilah. Dimulailah petualangan
itu pada pukul 15.00. Rona dan pesona hutan lindung mengawali pemandangan di
kaki gunung. Butuh 6 hingga 7 jam untuk mencapai puncak. Suasana pendakian yang
tak seperti dibenakku, sangat ramai orang berbondong-bondong menuju puncak.
Maklum malam ini adalah pergantian tahun baru 2013, mungkin sebagian besar
mereka ingin menghabiskan moment tahun baru diatas sana. Sayang cuaca sangat
tidak bersahabat, hujan cukup deras mengguyur sejak pos 1 menuju pos 2. Namun
bukan berarti curahan rahmat dari langit ini menjadikan kita kufur dan
melunturkan semangat menggapai puncak. Semakin bertambahnya dingin kuimbangi
dengan bara semangat. Melanjutkan pendakian setelah sejenak mengisi perut
dengan gorengan di pos 2. Di pos 2 ini terdapat penjual yang menjajakan minuman
hangat dan gorengan. Banyak dari mereka melepas lelah disini. Tak sedikit pula
yang mendirikan tenda di pos ini.
Perjalanan mulai pos 2 menuju pos 3 dan selanjutnya
menurut informasi yang kudapatkan sangatlah curam dan terjal. Di jalur ini
benar-benar menguras energi dan seberapa besar kesabaran diuji. Hujan deras dan
udara dingin membuat kaki ini berkali kali mengalami kram. Tidak layak memang
jas hujan yang kukenakan, nyaris basah kuyup. Nafas terengah yang dan sedikit
api semangat yang mulai redup diguyur badai. Berkali kali harus terduduk,
benar-benar tidak bisa dipaksakan. Hampir saja nyali ini menciut melihat
keadaan yang hampir-hampir menyerah. Bagaimana tidak baru saja kaki melangkah
dari pos 2, paling tidak butuh waktu 3
jam bahkan lebih untuk mencapai pos 5, tempat kami berencana ngecamp dengan jalan curam dan terjal
sepanjang kurang lebih 2,6 km. Pada kondisi seperti di alam bebas seperti ini
dituntut sigap dan siap dengan berbagai hal, termasuk badai dan hujan deras. Sebagian
dari petualang mengatakan bahwa ketika kita berpetualang di alam bebas seperti
ini antara hidup dan mati memiliki jarak yang tipis. Saat saat seperti ini
kembali mengingatkan akan kebesaran Allah Aza Wa Jalla, betapa kurangnya diri
ini ngangsu kawruh marang alam yang
mana merupakan ayat kauniyah bukti ke-Maha Besaran-Nya. Dengan sepercik api
semangat yang tersisa kupantik dengan segala ucapan puji bagi-Nya. Kalimah Istighfarpun
terucap di setiap langkah perjalanan berikutnya. Sesekali juga kalimah hasbalah
dan hauqalah. Bahwa tiada daya dan
kekuatan (untuk menolak sesuatu kemudaratan dan mendatangkan suatu yang
manfaat) selain Allah SWT. Setapak demi setapak dengan nafas penuh
syukur kembali menyusuri.
| 3265 Mdpl |
وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
“Dan kami hamparkan
bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan
padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, (Qaaf 50 : 7)
Tidak salah kali
ini gunung kujadikan sebagai guru, mengajarkan falsafah kehidupan bagaimana bersahabat
dengan alam, harus bangkit ketika terjatuh, beryukur, arti pertemanan dan menolong
sesama dalam mencapai satu tujuan, Puncak kesuksesan, fii dunya wal akhiroh. Namun
puncak itu, tempat dimana beberapa hari yang lalu aku memijakkan kaki, sekarang
hanya sebatas panorama yang bisa aku
lihat dari jendela bus. Semakin berkamuflase dalam gelap, seiring bertambahnya
detik. Semakin tersadar pula bahwa perjalanan menuju puncak yang sebenarnya
baru akan dimulai, puncak kesuksesan yang aku cita-citakan. Terima kasih
Alamku, Guruku.
