Kamis, 03 Januari 2013

Tentang Puncak



Sore ini dalam dingin suhu AC bus Mira melaju meninggalkan kota Gudeg. Entah Kota Gudeg atau kota Pelajar yang jelas kota ini telah memberikan coretan cerita dalam sejarah perjalananku menuju puncak asa. Kota budaya, Never Ending Asia dan masih banyak mungkin julukan yang disematkan pada Jogja. Perjalananku kali ini bukan dalam rangka backpakeran ato refreshing melainkan menuju kota tercinta, Kota Reyog, Ponorogo. Letih yang amat sangat pun membuatku tertidur mengikuti ruas jalur mimpi. Sesaat aku terjaga dari tidur. Kulihat waktu menunjuk Pukul 16.30 kulkas berjalan ini (karena saking dinginnya suhu AC didalam bus,hee..) memasuki terminal Tirtonadi. Sudah menjadi kebiasaan bahkan ritualku saat pulang naik bus yakni membeli tahu asin yang dijajakan laskar asongan. Tak kenyang memang namun sedikit membungkam perut ini. Suasana terminal yang khas dengan para asongan. Tak pelak jika tempat seperti ini bisa menjadi salah satu pusat perekonomian rakyat.
Lawu di Sore hari
Bus pun kembali menyusur jalan, seiring harapku untuk sampai di kota tercinta. Cuaca sedikit cerah dengan beberapa gumpalan mendung. Ada hal yang mengusik pandanganku saat itu. Saat bus melaju di jalan Palur, Yah panorama itu. Kebetulan aku duduk di seat samping jendela bus. Sehingga nampak jelas panorama nun jauh disana, dengan kokoh tegak dengan diselimuti sedikit awan di bagian kaki kakinya. Gunung Lawu, tak salah lagi. Gunung ini memang terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dan memiliki ketinggian 3265 Mdpl. “Subhanallah” ucapku berkali-kali dalam hati. Waktu menunjuk 17.05, masih cukup jelas Lukisan Allah yang tergambar di luar sana. Seolah seperti siluet dengan semburat jingga di sekelilingnya. Kini Terdapat jarak yang jauh antara aku dengan lukisan alam itu. Kembali bepetualang dengan imajiku, memutar memori yang terekam dua hari yang lalu. Penuh perjuangan, penuh kesabaran dan kegigihan. Benar-benar alam telah memberiku pelajaran yang berharga dengan kejujurannya. Alam semesta, binatang, dan tumbuhan telah mengajarkan kepada kita semua sebuah kejujuran yang paling mulia Kekokohan dan keindahannya tersirat akan kebenaran apa yang diFirmankan Allah SWT dalam ayat QauliyahNYA

وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,  (An Nahl 16 :15)



وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُونٍ

"Dan kami Telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. (Al Hijr 15 : 19)


Terus memutar ulang saat-saat bagaimana harus melewati jalan setapak, berjumpa dan saling sapa dengan sesama Pendaki, menyisir alam, bertemankan dengan lelah, udara dingin, hujan dan juga ancaman-ancaman dari alam bebas yang setiap saat menyerang. Sensasi luar biasa memang bagi seorang pendaki pemula sepertiku. Namun suatu hal kekonyolan apabila segalanya dengan persiapan seadanya. Pendakian gunung kedua ini harus lah mencapai yang kutargetkan. Mencapai puncak tertinggi, Hargo Dumilah. Dimulailah petualangan itu pada pukul 15.00. Rona dan pesona hutan lindung mengawali pemandangan di kaki gunung. Butuh 6 hingga 7 jam untuk mencapai puncak. Suasana pendakian yang tak seperti dibenakku, sangat ramai orang berbondong-bondong menuju puncak. Maklum malam ini adalah pergantian tahun baru 2013, mungkin sebagian besar mereka ingin menghabiskan moment tahun baru diatas sana. Sayang cuaca sangat tidak bersahabat, hujan cukup deras mengguyur sejak pos 1 menuju pos 2. Namun bukan berarti curahan rahmat dari langit ini menjadikan kita kufur dan melunturkan semangat menggapai puncak. Semakin bertambahnya dingin kuimbangi dengan bara semangat. Melanjutkan pendakian setelah sejenak mengisi perut dengan gorengan di pos 2. Di pos 2 ini terdapat penjual yang menjajakan minuman hangat dan gorengan. Banyak dari mereka melepas lelah disini. Tak sedikit pula yang mendirikan tenda di pos ini.

Perjalanan mulai pos 2 menuju pos 3 dan selanjutnya menurut informasi yang kudapatkan sangatlah curam dan terjal. Di jalur ini benar-benar menguras energi dan seberapa besar kesabaran diuji. Hujan deras dan udara dingin membuat kaki ini berkali kali mengalami kram. Tidak layak memang jas hujan yang kukenakan, nyaris basah kuyup. Nafas terengah yang dan sedikit api semangat yang mulai redup diguyur badai. Berkali kali harus terduduk, benar-benar tidak bisa dipaksakan. Hampir saja nyali ini menciut melihat keadaan yang hampir-hampir menyerah. Bagaimana tidak baru saja kaki melangkah dari pos 2, paling tidak butuh  waktu 3 jam bahkan lebih untuk mencapai pos 5, tempat kami berencana ngecamp dengan jalan curam dan terjal sepanjang kurang lebih 2,6 km. Pada kondisi seperti di alam bebas seperti ini dituntut sigap dan siap dengan berbagai hal, termasuk badai dan hujan deras. Sebagian dari petualang mengatakan bahwa ketika kita berpetualang di alam bebas seperti ini antara hidup dan mati memiliki jarak yang tipis. Saat saat seperti ini kembali mengingatkan akan kebesaran Allah Aza Wa Jalla, betapa kurangnya diri ini ngangsu kawruh marang alam yang mana merupakan ayat kauniyah bukti ke-Maha Besaran-Nya. Dengan sepercik api semangat yang tersisa kupantik dengan segala ucapan puji bagi-Nya. Kalimah Istighfarpun terucap di setiap langkah perjalanan berikutnya. Sesekali juga kalimah hasbalah dan hauqalah. Bahwa tiada daya dan kekuatan (untuk menolak sesuatu kemudaratan dan mendatangkan suatu yang manfaat) selain Allah SWT. Setapak demi setapak dengan nafas penuh syukur kembali menyusuri. 




3265 Mdpl
Pagi itu, tepat 1 januari 2013 pukul 05.30 kaki ini berhasil memijakkan di Puncak tertinggi Hargo Dumilah, Gunung Lawu. Tak henti-hentinya bibir ini mengucap Alhamdulillah dan Subhanallah. Kini didepan terhampar lukisan Sang Maha Agung, sebaik-baik Pencipta yang melukis alam ini dengan sempurna. Pemandangan yang disuguhkan benar-benar sebanding dengan perjuangan selama pendakian. 







 
وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata,   (Qaaf 50 : 7)

  Tidak salah kali ini gunung kujadikan sebagai guru, mengajarkan falsafah kehidupan bagaimana bersahabat dengan alam, harus bangkit ketika terjatuh, beryukur, arti pertemanan dan menolong sesama dalam mencapai satu tujuan, Puncak kesuksesan, fii dunya wal akhiroh. Namun puncak itu, tempat dimana beberapa hari yang lalu aku memijakkan kaki, sekarang  hanya sebatas panorama yang bisa aku lihat dari jendela bus. Semakin berkamuflase dalam gelap, seiring bertambahnya detik. Semakin tersadar pula bahwa perjalanan menuju puncak yang sebenarnya baru akan dimulai, puncak kesuksesan yang aku cita-citakan. Terima kasih Alamku, Guruku.