Selasa, 04 Desember 2012

Sejenak Bermuhasabah

Sejenak pandangan tertuju pada arloji kecil. Detik itu seakan tak dapat diajak berkonsolidasi. berjalan sekehendaknya, tak perduli saya, kamu, kita dalam kondisi apa dan sedang mengapa. Kapan waktu itu terhenti ? itu berarti mempertanyakan hal yang yang sangat urgent yang berarti kapan waktu kita berhenti dalam porsi masing-masing. apakah yang dimaksud "waktu kita" ?

Porsi itu telah diatur olehNya sedemikian rupa,tanpa kita ketahui supaya timbul kesadaran berpikir untuk memposisikan muhasabah diri dalam tiap detik. Nanti kah, esok kah, lusa kah, semuanya dalam tanda tanya besar bagi kita insan manusia. Lantas sejauh manakah kita berpikir kedepan sejauh tak terhingga? Dimana anda berada pada saat itu tentu anda tidak akan pernah tahu. Lantas untuk apa kita berpikir seperti itu ? sejauh mana saat ini kita bertindak untuk saat-saat itu?

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Q.S.Al-Hasyr (59):18]

Disinilah urgensi dari muhasabah, selama roh ini masih mendiami jasad, selama itu pula lah waktu untuk kita tersedia. Muhasabah adalah upaya mengingatkan diri secara sungguh-sungguh agar selalu melakukan amal kebaikan dan menghindari diri dari amal buruk. Karena itu para ulama yang shalih mengatakan, hari penghisaban itu akan Allah ringankan bagi mereka yang sering bermuhasabah di dunia. Dan hari penghisaban akan amat berat bagi mereka yang lalai melakukan muhasabah dalam hidupnya. Umar bin Khattab r.a. mengatakan, ”Hisablah dirimu sendiri, sebelum kelak engkau dihisab.” Ketika mendeskripsikan perihal orang yang cerdas, Rasulullah SAW mengatakan, ”Orang yang cerdas adalah ialah yang mampu menundukkan hawa nafsunya (kepada kebenaran) dan beramal untuk (waktu) setelah kematiannya.”
Wa Allahu a’lamu bish shawwab.

Sang Ustadz


Man jaa-a bilhasanati falahu 'asyru amtsaalihaa waman jaa-a bissayyi-aati falaa yujzaa illaa mitslahaa wahum laa yuzhlamuun (Al An'am 160).

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan) 

Begitulah sepotong ayat yang sering disampaikan beliau dalam mendakwahkan Dinnul Islam. Dari ayat tersebutlah yang kemudian beliau memformulasikan "Matematika Sedekah". Memang sosok yang berkesan. Sosok yang dulunya penulis anggap sebagai ustadz yang seperti pada umumnya, namun jalan dakwahnya dengan membumikan "Sedekah" menjadikan beliau sosok Ustadz dengan konseptualisasi dakwah yang khas di mata penulis. Perjumpaan dengan kepribadian beliau pun baru penulis alami ketika penulis aktif dalam Komunitas Relawan lembaga amil zakat dan sedekah yang berada di bawah naungan Yayasan milik beliau. Dari situlah penulis mendapatkan secercah inspirasi dari "The Miracle of Giving". Sangat sejalan dengan kondisi bangsa ini, ketika kesenjangan sosial terjadi, jarak antara si kaya dan si miskin sangatlah jauh atas dasar peribadahan Hablum minannas , dalam dimensi sosial Sedekah adalah jalan keluar dalam menjalin ukkuwah. 

Keaktifan dalam komunitas relawan itu pun membawa penulis dalam Perjumpaan secara nyata ketika beliau menghadiri serangkaian jadwalnya di Yogyakarta, dan tim dari relawan diperintahkan merapat ke lokasi. "Semangat ya"...itulah ucapan sederhana yang muncul dan selalu penulis ingat ketika penulis bersimpangan dengan beliau . Saat itu penulis bertugas membagikan selebaran dan buletin dari lembaga sedekah beliau. Itulah kali pertama penulis bertemu secara langsung dengan sosok karismatik dengan senyum sederhana. Ya, beliaulah Sang Ustadz. Kelugasan dalam berdakwah dan konseptualisasi sedekah yang beliau sy'arkan memberikan semangat berbagi kepada penulis. Begitu dahsyatnya manfaat sedekah.