Sejenak pandangan tertuju pada arloji kecil. Detik itu seakan tak dapat diajak berkonsolidasi. berjalan sekehendaknya, tak perduli saya, kamu, kita dalam kondisi apa dan sedang mengapa. Kapan waktu itu terhenti ? itu berarti mempertanyakan hal yang yang sangat urgent yang berarti kapan waktu kita berhenti dalam porsi masing-masing. apakah yang dimaksud "waktu kita" ?
Porsi itu telah diatur olehNya sedemikian rupa,tanpa kita ketahui supaya timbul kesadaran berpikir untuk memposisikan muhasabah diri dalam tiap detik. Nanti kah, esok kah, lusa kah, semuanya dalam tanda tanya besar bagi kita insan manusia. Lantas sejauh manakah kita berpikir kedepan sejauh tak terhingga? Dimana anda berada pada saat itu tentu anda tidak akan pernah tahu. Lantas untuk apa kita berpikir seperti itu ? sejauh mana saat ini kita bertindak untuk saat-saat itu?
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Q.S.Al-Hasyr (59):18]
Disinilah urgensi dari muhasabah, selama roh ini masih mendiami jasad, selama itu pula lah waktu untuk kita tersedia. Muhasabah adalah upaya mengingatkan diri secara sungguh-sungguh agar selalu melakukan amal kebaikan dan menghindari diri dari amal buruk. Karena itu para ulama yang shalih mengatakan, hari penghisaban itu akan Allah ringankan bagi mereka yang sering bermuhasabah di dunia. Dan hari penghisaban akan amat berat bagi mereka yang lalai melakukan muhasabah dalam hidupnya. Umar bin Khattab r.a. mengatakan, ”Hisablah dirimu sendiri, sebelum kelak engkau dihisab.” Ketika mendeskripsikan perihal orang yang cerdas, Rasulullah SAW mengatakan, ”Orang yang cerdas adalah ialah yang mampu menundukkan hawa nafsunya (kepada kebenaran) dan beramal untuk (waktu) setelah kematiannya.”
Wa Allahu a’lamu bish shawwab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar